15 Desember 2008

REPRODUKSI SEKSUAL KARANG DI INDONESIA

REPRODUKSI SEKSUAL KARANG DI INDONESIA: SUATU KAJIAN [1]1)



Oleh:



Munasik

Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Semarang


ABSTRAK



Studi reproduksi seksual karang menjadi populer setelah adanya laporan spawning massal 156 spesies karang tahun 1983 di Great Barrier Reef, Australia. Di Indonesia, kajian serupa spawning 14 spesies karang telah dilaporkan terjadi di Kepulauan Karimunjawa, Jepara (Jawa Tengah) pada tahun 1995. Pada periode yang sama di perairan Lombok barat, Nusa Tenggara Barat dilaporkan spawning 3 spesies karang. Hanya 1 spesies dari kelompok karang brooding Pocillopora damicornis di Pulau Panjang, Jepara yang telah dilaporkan melepaskan planulae setiap bulan. Sedangkan reproduksi seksual anggota family Pocilloporidae lainnya, Stylopora pistillata sampai saat ini masih menyisakan pertanyaan.

Reproduksi seksual karang (scleractinia) ditentukan oleh jenis karang maupun letak lintang dimana karang dapat hidup. Indonesia yang terletak digaris khatulistiwa kemungkinan mempunyai pola reproduksi yang berbeda dengan daerah subtropis. Iklim Indonesia yang memiliki musim hujan dan kemarau akan menentukan masa reproduksi seksual karang. Secara garis besar diperkirakan bahwa masa reproduksi karang di Indonesia terbagi menjadi 3 (tiga) kelompok: (1) spawning sebelum musim hujan (Oktober-Nopember), (2) spawning sewaktu atau sesudah musim hujan (Januari-April) dan (3) spawning sepanjang tahun dan/atau tidak dipengaruhi musim, seperti karang brooding (melepaskan planulae).



Kata kunci: reproduksi seksual; karang; masa reproduksi; Indonesia



I. PENDAHULUAN



Studi reproduksi seksual karang menjadi populer setelah adanya laporan spawning masal 156 jenis karang tahun 1983 di Great Barrier Reef, Australia. Fadlallah (1983) telah mencatat studi reproduksi seksual di beberapa wilayah, seperti di Australia Barat (28 spesies), di Karibia (20 spesies), di Laut Merah (13 spesies), di Okinawa (11 spesies), di Hawaii (10 spesies) dan di Palau (10 spesies). Namun sayang, di wilayah-wilayah dimana terdapat karang yang melimpah belum ada laporan penelitian mengenai reproduksi karang, seperti di Asia Tenggara dan Afrika. Di Indonesia penelitian reproduksi karang sangat kurang. Reproduksi seksual beberapa jenis yang telah dipelajari antara lain Pocillopora damicornis, Stylophora pistillata, Acropora aspera di Pulau Panjang, Jepara (Syafrudin, 1997; Susilo, 1997; Munasik dan Azhari, 2002). Spawning 14 spesies karang di Kepulauan Karimunjawa, Jepara (Setyadi, 1996) dan studi histologi reproduksi karang Acropora dan Hydnophora di perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat (Bachtiar, 2001). Sebagai pusat distribusi karang dunia maka penelitian reproduksi karang di wilayah Indonesia menjadi penting terutama berkaitan dengan usaha-usaha preservasi dan konservasi terumbu karang.

Karakteristik reproduksi karang pada suatu wilayah dapat dijadikan pijakan dalam manajemen ekosistem terumbu karang. Jenis kelamin, susunan gonad, fekunditas dan model reproduksi serta masa reproduksi suatu jenis karang sangat bermanfaat dalam prediksi rekruitmen populasi karang. Meskipun jenis kelamin (hermafrodit atau gonokorik) dan susunan gonad bersifat tetap pada setiap genus/famili di setiap wilayah (lihat Tabel. 7.2 dalam Harrison dan Wallace, 1990; Harrison, 1985) namun model reproduksi (spawning atau brooding) dan fekunditas lebih banyak ditentukan oleh kondisi lingkungan terumbu. Famili Acroporiidae adalah hermafrodit tetapi dapat memiliki model reproduksi dan fekunditas yang berbeda. Karang Acropora aspera di Pulau Panjang, Jepara adalah hermaphroditic-spawner memiliki jumlah oosit per polip lebih rendah daripada Acropora spp berjenis kelamin sama di Laut Merah (Munasik dan Azhari, 2002). Sedangkan Acropora palivera dan A. cuneata di Heron Island Great Barrier Reef mempunyai model reproduksi dengan mengerami larvae-nya atau hermaphrodite brooder (Kojis, 1986). Karang soliter Fungiidae adalah gonokorik dengan model reproduksi umumnya spawning (Krupp, 1983; Heyward et al., 1987; Hayashibara et al., 1993; Kramarsky-Winter dan Loya, 1998) tetapi di utara Pulau Sesoko, Okinawa Fungia fungites adalah gonochoric brooder (Munasik, 1999). Demikian pula hal yang sama ditemui pada masa reproduksi karang yang lebih bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Jenis Acropora spp. spawning pada bulan Oktober dan Nopember di Kepulauan Karimunjawa, Jepara (Setyadi, 1996) sedangkan Acropora di Pulau Panjang, Jepara spawning di bulan April (Munasik dan Azhari, 2002). Kekomplekan studi reproduksi karang semakin bertambah jika dikaitkan dengan dispersal larvae dan fase settlement planulae karang dengan faktor-faktor fisika kimia perairan.

Makalah ini merupakan rangkuman data-data pengamatan spawning dan studi histologi karang di Indonesia yang masih sangat terbatas yang meliputi Perairan Jepara (Pulau Panjang dan Kepulauan Karimunjawa) dan Perairan Selat Lombok. Dari analisa karakteristik reproduksi di dua wilayah perairan yang berbeda tersebut selanjutnya dibahas perkiraan musim reproduksi karang di Indonesia.



II. REPRODUKSI SEKSUAL KARANG



1. Jenis Kelamin Karang

Jenis kelamin hewan karang tidak mudah dilihat dari luar sebagaimana pada hewan tingkat tinggi lainnya. Untuk menentukan jenis kelamin secara langsung harus mengamati gonad matang di dalam coelenteron. Jenis kelamin dapat mudah dilihat lebih jelas sewaktu karang brooder mengandung embrionya dalam coelenteron. Testis karang biasanya berwarna putih, sedangkan ovarium tampak berwarna lebih menyolok merah, merah muda, orange, coklat atau biru (Harrison dan Wallace, 1990).

Jenis kelamin karang dibedakan atas hermafrodit dan gonokorik. Karang hermafrodit adalah karang yang menghasilkan gamet jantan dan gamet betina dalam satu koloni atau individu dalam sepanjang hidupnya. Sedangkan karang gonokorik adalah karang yang berbentuk koloni atau individu yang menghasilkan gamet jantan dan gamet betina secara sendiri-sendiri sepanjang hidupnya (dioecious, kelamin terpisah). Karang scleractinia yang termasuk dalam kelompok gonokorik kebanyakan adalah sub-ordo Fungiina, anatara lain: Agaricidae, Siderastreidae, Fungiidae dan Poritidae. Sedangkan kelompok hermafrodit adalah famili Acroporidae, Pocilloporidae, Faviidae, Merulinidae, Oculinidae, Musiidae dan Pectinidae (lihat review Richmond dan Hunter, 1990).

Karang hermaprodit menurut perkembangan gonadnya terbagi atas (1) hermafrodit simultan (simultaneous hermaphrodite) dan (2) hermafrodit berurutan (sequential hermaphrodite). Pada karang hermafrodit simultan, ovum dan sperma karang matang secara serentak (Policansky, 1982), sedangkan hermafrodit berurutan adalah kematangan ovum dan sperma berbeda waktunya. Matang gonad pada hermafrodit berurutan mempunyai dua pengertian, yaitu jantan matang lebih dulu daripada betina yang disebut protrandus, atau betina lebih dulu matang daripada jantan yang disebut protogynous (Ghiselin, 1974).

Harrison dan Wallace (1990) mendata bahwa 93 % dari keseluruhan karang hermafrodit tergolong dalam hermafrodit simultan, sedangkan sisanya belum jelas. Meskipun fenomena hermaprodit berurutan belum ada kejelasan pada karang scleractinia, namun sudah ada beberapa laporan mengenai tipe tersebut. Richmond (1996) mencatat sebagian besar Acroporidae, Faviidae dan beberapa Pocilloporiidae adalah termasuk hermafrodit simultan, sedangkan Stylophora pistillata dan Goniastrea favulus merupakan hermafrodit berurutan. Di Indonesia, sebagian besar laporan reproduksi seksual karang adalah dari kelompok hermafrodit sedangkan kelompok karang gonokorik sangat terbatas dan belum teridentifikasi (lihat Tabel 1). Jenis kelamin hermafrodit yang kemungkinan terjadi adalah tipe hermafrodit berurutan (sequential hermaphrodite) yang telah ditemukan pada Stylophora pistillata (Susilo, 1997), Acropora aspera (Munasik dan Azhari, 2002) dan Hydnophora rigida (Bachtiar, 2001). Hal ini ditunjukkan dengan perbedaan waktu kematangan gonad, dimana telur lebih dulu matang daripada sperma (protogynous).



2. Model Reproduksi

Secara umum karang mempunyai dua model reproduksi yang sangat berbeda, yaitu (1) brooding (mengandung larva) dan (2) spawning (pemijahan). Perbedaan ini ditentukan oleh cara pertemuan gamet jantan dan gamet betina. Pada karang yang melakukan brooding, telur-telur yang dibuahi secara internal di dalam gastrovasculer dierami hingga perkembangannya mencapai stadium larva planula. Sedangkan karang yang melakukan spawning adalah melepaskan telur-telur dan sperma ke kolom perairan dan pembuahan terjadi secara eksternal selanjutnya embrio juga berkembang di perairan. Sebagian besar karang di dunia bereproduksi dengan cara spawning, begitu pula dengan model reproduksi di Indonesia. Dari 21 spesies karang yang dilaporkan hanya 1 spesies (Pocillopora damicornis) yang melepaskan planulae dan 1 spesies (Stylophora pistillata) belum jelas model reproduksinya (Tabel 1). Perbedaan model reproduksi ini akan mempengaruhi beberapa aspek ekologi karang, antara lain transfer alga symbiont zooxanthellae ke dalam larva, larval competency (kemampuan larva dalam melakukan penempelan untuk menetap dan metamorfosis), penyebaran larva, pola distribusi karang, keanekaragaman genetis, laju spesiasi dan evolusi (Richmond, 1996).

Model reproduksi karang melalui spawning bertujuan untuk dispersal/penyebaran larvae dalam jarak jauh (long-distance dispersal), sedangkan cara brooding diperuntukkan bagi rekruitmen lokal (Hughes et al., 1999). Struktur populasi karang brooding Pocillopora damicornis di Pulau Panjang, Jepara menunjukkan kisaran ukuran koloni yang beragam. Hal ini mengindikasikan bahwa rekruitmen terjadi disekitar koloni-koloni induknya dimana juvenil karang menempel di sekitar induknya. Sedangkan spawning karang yang terjadi di Selat Lombok pada bulan Januari-Maret ditengara larvae karang akan melakukan perjalanan jauh dibawa oleh arus Leeuwin dan selanjutnya menempel dan tersebar di Australia Barat (Bachtiar, 2001).



Tabel 1. Karakteristik reproduksi seksual karang di Indonesia
Spesies


Jenis Kelamin


Model Reproduksi


Masa Reproduksi


Lokasi (Sumber Pustaka)

Acroporidae
Acropora aspera







Acropora cytherea

Acropora nobilis



Acropora hyacinthus

Acropora humilis



Acropora palifera
Montipora spumosa


Faviidae

Favia pallida





Favia pallida





Diploastrea heliopora

Cyphastrea microphthalma



Cyphastrea serailia
Goniastrea retiformis

Echinophora lamellosa

Echinophora horrida


Pectiniidae

Pectinia paeonia



Mycedium elephantotus



Agariciidae

Pachyserie speciosa



Pavona cactus



Oculinidae

Galaxea fascicularis


Merulinidae

Merulina scubricula





Hydnophora rigida


Poritidae

Porites lobata


Pocilloporidae

Pocillopora damicornis





Stylophora pistillata
III. MASA REPRODUKSI KARANG



Berdasarkan pengamatan spawning dan pelepasan planulae karang di Indonesia (lihat Tabel 1) masa reproduksi seksual karang dapat dikelompokkan dalam tiga musim setiap tahun. Spawning sebelum musim hujan (Oktober-Nopember), spawning sewaktu atau sesudah musim hujan (Januari-April) dan spawning atau pelepasan planulae sepanjang tahun (Gambar 1). Pengelompokan ini masih merupakan langkah awal, mengingat laporan-laporan reproduksi karang di Indonesia masih kurang dan belum didukung dengan data-data gametogenesis (perkembangan gamet) masing-masing jenis karang. Perkiraan musim spawning merupakan puncak-puncak spawning dan kemungkinan pada bulan-bulan lainnya diperkirakan terjadi spawning susulan pada populasi karang. Keadaan ini berbeda dengan kejadian spawning di wilayah lain belahan dunia. Di Great Barrier Reef Australia spawning masal terjadi di musim semi (Oktober-Nopember) sedangkan di wilayah Pasifik Tengah, Okinawa, Hawaii dan Laut Merah spawning terjadi pada musim panas (lihat review Richmond dan Hunter, 1990). Variasi temperatur tahunan dan curah hujan diindikasikan sebagai faktor utama penentu “timing” spawning karang. Spawning karang Montastrea annularis di Jamaika dipengaruhi kombinasi faktor temperatur dan curah hujan (Mendes dan Woodly, 2002). Spawning terjadi di bulan sebelum musim hujan dimana temperatur maksimum. Lebih jauh dinyatakan sebaliknya bahwa pembentukan gamet karang tidak dipengaruhi oleh curah hujan. Di Indonesia yang mempunyai musim kemarau dan musim hujan dengan kondisi perairan yang hangat sepanjang tahun maka kombinasi keduanya akan menentukan masa spawning. Sehingga kejadian spawning terjadi pada bulan-bulan mendekati musim hujan baik setelah maupun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan karang Hydnophora rigida yang mengalami spawning dua kali dalam
setahun (biannual spawning; Bachtiar, 2001) pada bulan Nopember (sebelum musim hujan) dan setelah musim hujan pada bulan Maret.

Gambar 1. Masa spawning dan pelepasan planulae karang di Indonesia

Kejadian spawning karang di Indonesia tampaknya terjadi kurang serentak antar jenis karang. Kecenderungan terjadinya sinkronisasi spawning antar jenis karang berkaitan pula dengan kisaran temperatur tahunan suatu wilayah. Semakin pendek kisaran temperatur tahunan di suatu wilayah akan semakin lemah sinkronisasi spawningnya. Spawning multijenis secara masal di perairan Great Barrier Reef Australia terjadi dengan kisaran temperatur tahunan 12 °C. Sedangkan wilayah dimana spawning terjadi kurang sinkron dengan temperatur berada pada kisaran 2,2 °C di Pasifik Tengah (Emery, 1962), kisaran 3,2 °C di Karibia (Tomascik dan Sander, 1987), di Hawaii dengan kisaran temperatur 4 °C (Jokiel, 1985), kisaran 6 °C di Laut Merah (Rinkevich dan Loya, 1979) dan kisaran 9,8 °C di Okinawa (Nakamura, 1984). Di Indonesia memiliki kisaran temperatur tahunan yang pendek, musim kemarau periode Juni-Oktober dengan kisaran 2 °C (27-29°C) sedangkan musim hujan periode Desember-Maret (28-30°C) dengan kisaran temperatur 2 °C (Kep. Kangean, Hartoko et al., 2000).

Dari data reproduksi yang tersedia menunjukkan bahwa sebagian besar karang di Indonesia adalah hermaprodite spawner dan beberapa diantaranya dilaporkan sebagai protogynous. Masa reproduksi karang dapat dikelompokkan menjadi tiga musim spawning: (1) spawning sebelum musim hujan (Oktober-Nopember), (2) spawning sewaktu atau sesudah musim hujan (Januari-April) dan (3) spawning sepanjang tahun dan/atau tidak dipengaruhi musim, seperti karang brooding (melepaskan planulae). Kombinasi temperatur laut dan curah hujan diperkirakan menentukan kejadian spawning di Indonesia. Menurut Gastellu-Etchegorry et al. (1987) pada bulan Oktober-Nopember perairan Indonesia memperoleh aliran air hangat dari Samudera India serta air hangat yang terjadi pada bulan Maret-April. Curah hujan yang rendah yang terjadi pada dua saat puncak spawning merupakan kondisi yang sangat mendukung. Saat spawning dapat dipicu oleh berbagai faktor lingkungan seperti pasang surut, fotoperiod sehingga spawning umumnya dipengaruhi oleh perputaran bulan (lunar). Spawning karang terjadi setelah purnama sedangkan pelepasan planulae oleh karang brooder terjadi pada bulan baru hingga bulan purnama.



DAFTAR PUSTAKA


Bachtiar I .2001. Reproduction of three scleractinian corals (Acropora cytherea, A. nobilis,
Hydnophora rigida) in eastern Lombok Strait, Indonesia. Majalah Ilmu Kelautan 21(V):18-27



Emery KO. 1962. Marine geology of Guam. Prof Pap US Geol Surv 403-B:1-76



Fadlallah YH. 1983. Sexual reproduction, development and larval biology in scleractinian

corals. A review. Coral reefs 2:129-150



Ghiselin MT. 1974. The economy of Nature and the Evolution of Sex. University of
California Press, Berkeley 346 pp



Harrison PL. 1985. Sexual characteristics of scleractinian corals: systematic and evolutionary

implications. Proc 5th Int Coral Reef Cong Tahiti 4:337-342



Harrison PL, Wallace CC. 1990. Reproduction, dispersal and recruitment of scleractinian coral.

In: Dubinsky Z (ed) Ecosystem of the world, Vol 25, Coral reefs. Elsevier, Amsterdam p 133-207



Hartoko A, Nganro NR, Nugroho W, Hasyim B. 2000. Dynamic mapping on spesific characters

of small pelagic fish ecosystem. Majalah Ilmu Kelautan 19(V):159-168



Hayashibara T, Shimoike K, Kimura T, Hosaka S, Heyward A, Harrison P, Kudo K, Omori M.

1993. Patterns of coral spawning at Akajima Island, Okinawa, Japan. Mar Ecol Prog Ser 101:253-262



Heyward AJ, Yamazato K, Yeemin T, Minei M. 1987. Sexual reproduction of corals in
Okinawa. Galaxea 6:331-343



Hughes TP, Baird AH, Dinsdale EA, Moltschaniwskyj NA, Pratchett MS, Tanner JE, Willis

BL. 1999. Patterns of recruitment and abundance of corals along the Great Barrier Reef. Nature 397:59-62



Jokiel PL. 1985. Lunar periodicity of planula release in the reef coral Pocillopora damicornis in

relation to various environmental factors. Proc 5th Int Coral Reef Symp. Tahiti 4:307-312



Kojis BL. 1986a. Sexual reproduction in Acropora (Isopora) species (Coelenterata:Scleractinia)

I. A. cuneata and A. palifera on Heron Island reef, Great Barrier Reef. Mar Biol 91:291-309



Kramarsky-Winter E, Loya Y. 1998. Reproductive strategies of two fungiid corals from the

northern Red Sea: environmental constrain? Mar Ecol Prog Ser 174:175-182



Krupp DA. 1983. Sexual reproduction and early development of the solitary coral Fungia

scutaria (Anthozoa:Scleractinia). Coral reefs 2:159-164



Mendez JM, Woodley JD. 2002. Timing of reproduction in Montastrea annularis: relationship

to environmental variables. Mar Ecol Prog Ser 227:



Munasik. 1999. Sexual Reproduction on The Solitary Coral Fungia fungites in Okinawa.

Japan . MSc Thesis. The University of The Ryukyus, Okinawa Japan



Munasik, Azhari A. 2002. Masa reproduksi dan struktur gonad karang Acropora aspera di

Pulau Panjang, Jepara. Prosiding Konperensi Nasional III 2002 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia 21-24 Mei 2002 (in press)


Nakamura S. 1984. Record of air temperature, surface water temperature and chlorinity at
Sesoko in 1983. Galaxea 3:105



Policansky D. 1982. Sex change in plants and animals. Annu Rev Ecol Syst 13:471-495


Richmond RH. 1997. Reproduction and recruitment in corals: Critical links in the persistence of

reefs. Pp 175-197 In: Birkeland CE (Ed) The life and death of coral reefs. Chapman and Hall. Publisher. NY 536pp



Richmond RH, Hunter, CL. 1990. Reproduction and recruitment of corals: comparisons among

the Caribbean, the Tropical Pacific, and the Red Sea. A review. Mar Ecol Prog Ser 60:185-203



Rinkevich B, Loya Y. 1979. The reproduction of the Red Sea coral Stylophora pistillata II.

Synchronization in breeding and seasonality of planula shedding. Mar Ecol Prog Ser 1:145-152



Setyadi EG .1996. Studi tentang rekruitmen karang untuk terumbu karang buatan dengan

berbagai tipe substrat kolektor di Pulau Panjang dan Kepulauan Karimunjawa, Jepara. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro h70


Susilo, H. 1997. Studi gametogenesis karang Stylophora pistillata dari Pulau Panjang,

Jepara. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro h51

Syafrudin H (1997) Studi gametogenesis dan planulasi karang Pocillopora damicornis.
Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro h48



Tomascik T, Sander F. 1987. Effects of eutrophication on reef building coral Porites porites.

Mar Biol 94:77-94



Widjatmoko W, Djunaedi A, Suprianto J, Munasik. 1997. Studi reproduksi karang Pocillopora

damicornis dan Stylophora pistillata di Perairan Jepara sebagai upaya konservasi terumbu karang. Laporan penelitian. Jurusan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro Semarang h42





[1]) Disampaikan pada Konperensi Nasional III 2002 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia,

Bali 21- 24 Mei 2002

14 Desember 2008

METODA SEDERHANA PEMANTAUAN TERUMBU KARANG

METODA SEDERHANA PEMANTAUAN TERUMBU KARANG

Oleh: Sukirman Tilahunga, S.IK

Sea Care Community

Of

Gorontalo University

Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 247 Limboto CP, 085240090354 Kab. Gorontalo Provinsi Gorontalo Indonesia

iman_tilahunaga@yahoo.com

ABSTRAK

Seperti juga terumbu karang di dunia, terumbu karang di Indonesia mengalami penurunan kualitas yang cukup signifikan. Tekanan yang dialami terumbu karang semakin meningkat seiring dengan aktifitas pembangunan, tekanan dari alam, dan perubahan iklim dunia (climate change). Diperlukan data yang berkesinambungan untuk mampu menggambarkan perubahan kondisi terumbu karang sebagai bahan pertimbangan untuk pengelolaannya.

Indonesia memiliki kawasan terumbu karang terkaya di dunia, tetapi sayangnya data dan sumber daya yang tersedia untuk memantau kondisi terumbu karang sangat terbatas. Dengan lebih dari 17,000 pulaunya, salah satu solusi yang memungkinkan ialah membangun program monitoring terumbu karang yang berbasiskan masyarakat.

Untuk itu diperlukan metode pemantauan sederhana yang bisa dilakukan oleh masyarakat penyelam awam dengan cakupan daerah yang luas. Pengambilan dan pengolahan data dilakukan dibawah koordinasi seorang saintis untuk menjaga standarisasi mutu sehingga mampu memberikan gambaran umum mengenai kondisi terumbu karang di dalam suatu kawasan. Metoda ini telah digunakan banyak negara, sehingga memungkinkan untuk dibandingkan dengan banyak tempat di dunia.


I. PENDAHULUAN

Indonesia terletak di dalam pusat keanekaragaman terumbu karang dunia dan memiliki minimum 14% dari total area terumbu karang di dunia (Tomascik dkk, 1997). Seperti juga terumbu karang di dunia, terumbu karang di Indonesia mengalami penurunan kualitas yang cukup signifikan. Tekanan yang dialami terumbu karang semakin meningkat seiring dengan aktifitas pembangunan, tekanan dari alam, dan perubahan iklim dunia (climate change).

Area terumbu karang di Indonesia yang luas tersebar di sekitar 17.500 pulau-pulau yang ada di Indonesia. Hal ini memberikan tantangan yang sangat besar terhadap konservasi terumbu karang. Bagaimana sebuah upaya konservasi dapat mencakup daerah-daerah terumbu karang tersebut secara efektif? Salah satu pilihan praktis adalah dengan membangun tim-tim lokal yang tersebar secara luas di Indonesia, seperti Sea Care Community Gorontalo University.

II. METODA PEMANTAUAN TERUMBU KARANG

II.1. Teknis metoda pemantauan

Program standar di Indonesia mencakup deskripsi teknis dan pengelolaan tim dan data sebagi berikut:

Kelompok / Tim :

Sebuah team terdiri dari empat orang penyelam ditambah seorang ilmuwan kelautan yang berperan sebagai ketua tim. Ketua tim akan bertanggung jawab untuk memimpin kelompoknya melakukan Pemantauan, menjamin bahwa data yang dikumpulkan akan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan menyelesaikan pelaporan ke sekretariat Sea Care.

Pemilihan Lokasi:

Pemilihan lokasi merupakan faktor yang sangat penting bagi keberhasilan pemantauan. Lokasi yang yang dipilih adalah daerah yang penutupan terumbu karangnya diperkirakan mewakili daerah tersebut. Untuk menyeragamkan hasil pengamatan, hindarkan untuk mengambil data terumbu karang di daerah tubir curam (dropoffs) dan perairan yang didominasi oleh daerah bergua-gua atau dinding gantung (overhangs). Sebaliknya disarankan untuk mengambil data dari sekitar rataan terumbu dan daerah karang yang rata serta lereng terumbu karang landai yang menghadap laut.

Penempatan transek dan pengambilan data:

Seluruh data hasil pemantauan diambil dengan menggunakan metode transek garis dan point. Transek dipasang pada lokasi terpilih. Data yang diambil meliputi data ikan, data substrat, data bentos, data species indikator, dan data deskripsi lokasi. Detail penempatan transek dan data yang diambil dapat dilihat pada lampiran 1.

Analisa data

Untuk Indonesia analisa data untuk substrat dasar adalah perhitungan statistik dilakukan untuk mengetahui keadaan masing-masing daerah dengan standar kesehatan karang daerah tersebut. Perhitungan tersebut didasarkan pada jumlah kemunculan hard coral dan dihitung berdasarkan percentiles sebagai berikut:

Ø Kondisi hard coral pada daerah tersebut dikatakan buruk apabila kemunculan hard coral daerah tersebut berada pada kisaran percentile 25.

Ø Kondisi hard coral pada daerah tersebut dikatakan sedang apabila kemunculan hard coral daerah tersebut berada pada kisaran percentile 50.

Ø Kondisi hard coral pada daerah tersebut dikatakan baik apabila kemunculan hard coral daerah tersebut berada pada kisaran percentile 75.

Ø Kondisi hard coral pada daerah tersebut dikatakan sangat baik apabila kemunculan hard coral daerah tersebut berada pada kisaran di atas percentile 75.

Jadi perhitungan ini digunakan sebagai perbandingan kondisi dengan acuan khusus pada satu daerah pengamatan saja.

Untuk melihat kondisi karang hidup digunakan persentase kemunculan karang hidup berdasarkan persen kemunculan hard coral dan soft coral. Kategori kondisi dari persentase ini dapat digunakan sebagai perbandingan kondisi antar daerah pengamatan. Persentase tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut:

Persentase Kemunculan Karang Hidup

(% HC + % SC)

Kategori Kondisi

0 – 24.9 %

25 – 49.9 %

50 – 74.9 %

75 – 100 %

D

C
B
A

Jadi kondisi karang hidup kategori A > B > C > D.

Analisa ikan dan benthos indikator menggunakan kelimpahan per site dan kelimpahan rata-rata pada daerah tersebut dengan satuan ind/1000 m3.

Penempatan transek dan pengambilan data

Penempatan Transek

Dua buah roll meter (ukuran 100 m) dibentangkan di dasar laut, masing-masing pada kedalaman 3 meter dan 10 meter (kedalaman diukur dari permukaan laut saat surut terendah). Roll meter harus dibentangkan mengikuti garis kontur kedalaman dasar laut 3 m dan 10 m dan sejajar dengan garis pantai. Masing-masing bentangan roll meter dibagi menjadi empat buah transek (transek A, B, C dan D) yang panjangnya masing-masing 20 m. Jarak antara ujung akhir transek dan ujung awal transek berikutnya adalah 5 m. Sehingga, keempat transek tersebut panjangnya 95 m. (transek A mulai di meter 0 s/d meter ke 20, transek B mulai di meter ke 25 s/d meter ke 45, transek C mulai dari meter ke 50 s/d 70 dan transek D mulai di meter ke 75 s/d meter ke 95).

Setelah transek selesai dipasang (kurang lebih memerlukan waktu 30 menit), titik awal transek A dan titik akhir transek D harus ditandai dengan pelampung dan dicatat koordinatnya dengan GPS. Apabila GPS tidak tersedia pencatatan lokasi dapat dilakukan dengan menggunakan kompas dan peta navigasi. Untuk pencatatan dengan menggunakan kompas menggunakan metoda baringan, yaitu mengambil tiga buah titik sebagai acuan, misalnya puncak gunung, mercusuar dan lain-lain yang dapat dikenali di peta navigasi. Setelah itu titik-titik tersebut diplotkan ke dalam peta navigasi daerah tersebut.

Transek Pengamatan Ikan

Pengamatan Ikan adalah yang pertama yang dilakukan setelah transek terpasang. Sebelum pekerjaan dimulai para penyelam harus menunggu sekurang-kurangnya 15 menit setelah pemasangan transek diselesaikan, supaya ikan yang diamati tenang kembali. Untuk mengamati ikan, penyelam berenang perlahan-lahan mengikuti tali transek (roll meter) dan berhenti di setiap interval 5 m untuk mencatat ikan yang diamati. Penyelam harus berhenti selama 3 menit di setiap titik pengamatan untuk menunggu sampai ikan keluar dari persembunyiannya. Penyelam hanya mencatat ikan yang berada di dalam dimensi transek, yaitu 2,5 m masing-masing ke arah kiri dan kanan tali transek serta 5 m ke atas (untuk kedalaman 3 m tentu saja dimensi tingginya kurang dari 5 m).

Ikan yang masuk kriteria dalam pemantauan adalah ikan-ikan karang yang bernilai ekonomi tinggi dan menjadi target tangkapan nelayan baik menggunakan pancing, tombak, bubu maupun sianida dan bahan peledak. Pembatasan ukuran ikan minimum diberlakukan pada beberapa jenis untuk menghindari rumitnya perhitungan ikan berukuran kecil. Pencatatan jumlah ikan yang teramati dilakukan dengan menggunakan "tally", yaitu dengan membubuhkan satu tanda (I) untuk setiap jenis ikan yang teramati pada kotak yang memuat jenis tersebut (lihat lembar data pada kolom Fish Belt Transek).

Jenis ikan yang masuk kriteria Pemantauan adalah sebagai berikut :

- Kerapu/ Grouper yang panjangnya tidak kurang dari 30 cm (semua jenis)

- Kerapu kembang/ Baramundi cod- Cromileptes altivelis

- Kakap/ Snapper - Lutjanidae

- Bibir tebal/ Sweetlips- Plectorinchus spp

- Napoleon/ Napoleon wrasse-Chellinus undulatus

- Ikan kakatua besar/ Bumphead parrotfish-Bolbometrapon muricatum

- Kepe-kepe/ Buterflyfish-Chaetodontidae

- Hiu/Shark

- Pari manta/ Manta

Catatan : pencatatan ikan napoleon, hiu, pari manta dan ikan kakaktua besar yang berada diluar transek sabuk dapat dibenarkan.

Para penyelam dapat melengkapi diri dengan mistar 20-30 cm untuk membantu memperkirakan ukuran ikan dan sebuah tongkat untuk memperkirakan jarak di dalam laut sebelum Pemantauan dilakukan.

Pengamatan benthos dan indikator lain

Pengamatan benthos dilakukan dengan mencatat semua jenis bentos dan hal-hal lain yang dimasukkan dalam kriteria indikator. Diperkirakan pengamatan dapat diselesaikan dalam 1 jam. Metode yang digunakan adalah transek sabuk (belt transek). Pengamatan dilakukan dengan mencatat semua jenis bentos dan indikator yang terdapat dalam dimensi transek sabuk, yaitu 2,5 m ke kanan dan kiri tali transek. Para penyelam harus menemukan bentos dan indikator Reef Check di setiap celah dan lubang, karena umumnya pada siang hari mereka berada di persembunyiannya.

Pencatatan dalam lembar data Pemantauan dilakukan dengan mencantumkan jumlah dari masing-masing jenis bentos dan indikator yang ditemukan pada setiap transek dengan tanda (I). Selain jumlah, ada beberapa benthos dan indikator juga perlu dicatat ukuran (cm), spesies, dan jenisnya. Semua jenis bentos dan indikator Pemantauan tercantum dalam daftar berikut :

- Udang pembersih/ Banded Coral Shrimp (Stenopus hispidus)

- Bulu babi/ Long-spined black sea urchins and pencil urchin - Diadema spp and Heterocentrotus mammilatus.

- Udang karang/ lobster (semua jenis yang dikonsumsi manusia)

- Sampah/ trash (catat jenis dan ukuran)

- Karang yang baru patah/ recently broken corals (catat penyebab: jangkar, bahan peledak, penyakit dll., dan luas kerusakan)

- Kima/ giant clams (catat spesies dan ukuran)

- Lola/ trochus

- Tripang/ sea cucumber

- Bulu seribu/ crown-of-thorn starfish-Acanthaster plancii

- Triton terompet/ triton shell- Charonia tritonis

- Penyu/ sea turtle (semua jenis)

Catatan: Pencatatan penyu yang berada di luar transek sabuk dapat dibenarkan.

Pengamatan substrat dasar laut

Pada setiap transek penyelam harus mencatat jenis substrat dengan metode sampling pada setiap interval 0,5 m. Dengan kata lain, pencatatan substrat dilakukan pada meter ke 0,5 m; 1,0 m; 1,5 m; 2,0 m; 2,5 m dan seterusnya pada roll meter hingga transek A, B, C dan D terselesaikan. Untuk mengurangi bias pengamatan dapat digunakan sebuah paku yang digantungkan pada seutas tali. Paku ini digantungkan tepat diatas setiap titik sampling. Penyelam tinggal mencatat jenis substrat yang ditunjukkan oleh ujung paku.

Penyelam harus mencatat jenis substrat pada lembar pengambilan data di dalam kolom 1. Substrate Point Sampling berdasar pada kriteria yang dicantumkan di bawah ini dan cukup mencantumkan singkatan dari masing-masing kriteria tersebut.

Karang keras/ hard corals (HC)

Mencakup semua karang batu termasuk Millepora, Heliopora dan Tubiphora.

Karang lunak/ soft coral (SC)

Termasuk Zoanthids tetapi tidak untuk Gorgonia dan Anemon (yang terakhir termasuk dalam kriteria OT).

Karang mati/ dead corals (DC)

Karang mati dapat berupa karang yang masih utuh maupun yang sudah menjadi puing-puing, tetapi masih kelihatan baru, lubang koralit masih jelas, berwarna putih atau belum sepenuhnya ditumbuhi oleh lumut.

Ganggang/ fleshy weeds (FS)

Penetapan kriteria ini untuk mencatat adanya pertumbuhan ganggang yang berlebihan (blooming) akibat adanya pengkayaan zat hara (eutrofikasi). Ganggang berkapur (coralline algae) tidak termasuk dalam kategori ini. Bila bertemu ganggang yang memang merupakan bagian umum dari ekosistem terumbu karang seperti sargasum harap dicatat spesiesnya dalam kotak General remark.

Spons Sponge (SP)

Termasuk semua jenis spons kecuali tunicata. Tetapi yang menjadi sasaran utama adalah pertumbuhan spons yang mencakup kawasan yang luas (blooming).

Batu/ rock (RC)

Substrat keras baik yang terlihat jelas maupun yang tertutup oleh lumut, teritip atau organisme lain. Bongkahan yang berdiameter lebih dari 15 cm masih masuk dalam kriteria ini.

Pecahan karang/ rubble (RB)

Bagian karang yang terfragmentasi menjadi potongan kecil-kecil.

Pasir/ sand (SD)

Lumpur/ silt (ST)

Substrat halus yang tetap menjadi suspensi bila teraduk.

Lain-lain/ others (OT)

Semua jenis organisme yang sesil termasuk Anemon, Tunicata, Gorgonia atau jenis substrat yang lain termasuk dalam kriteria ini.

Tugas seorang ketua kelompok/ Pakar ilmu Kelautan

Tugas utama ketua kelompok (KK) adalah menjamin bahwa para penyelam yang berada dibawah pengawasannya mengumpulkan data dengan cara yang benar. Ada beberapa kriteria Pemantauan yang memerlukan bantuan seorang ahli untuk menentukannya. Untuk itu bantuan KK sangat diperlukan untuk mengenali jenis-jenis ikan, benthos dan indikator yang lain, terutama untuk mengenali Millepora, Heliopora, Tubiphora, Gorgonia, Anemon, Tunikata dan teripang yang dapat dimakan serta menentukan spesies kima dan algae.

Disamping itu ada lembar data yang berisi deskripsi lokasi survei yang harus diisi dengan pengawasan langsung dari KK. Pertanyaan-pertanyaan yang harus diisi pada lembar deskripsi lokasi survei meliputi:

- Nama lokasi (site Name)

- Tanggal (date)

- Waktu saat pekerjaan dimulai (time of day that work started)

- Waktu pekerjaan selesai (time of day that work end)

- Derajat bujur lokasi (longitude of site)

- Derajat lintang lokasi (latitude of site)

- Dari GPS atau peta navigasi? (From navigational chart of GPS?)

Apabila pengukuran lintang dan bujur dilakukan dengan GPS, disarankan untuk melakukan pengukuran deferensial atau dengan mengambil rata-rata pengukuran yang berulang-ulang.

- Jarak dari pantai (distance from shore)

Dalam satuan kilometer.

- Jarak dari sungai terdekat (distance from nearest river)

Dalam satuan kilometer.

- Bukaan mulut sungai (river mouth wide)

- Cuaca (weather)

- Suhu udara (air temperature)

Dalam satuan derajat Celcius.

- Suhu air di permukaan (water temperature at surface)

Dalam satuan derajat celcius.

- Suhu air di kedalaman 3 m (water temperature at 3 m)

Dalam satuan derajat celcius.

- Suhu air di kedalaman 10 m (water temperature at 10 m)

Dalam satuan derajat celcius.

- Jarak dari pusat populasi terdekat (distance to nearest human population center)

Dalam satuan kilometer.

- Perkiraan ukuran populasi (approximate population size)

- Fisibilitas horisontal air (horisontal visibility of water)

- Mengapa dipilih lokasi ini? (How this site selected?)

- Apakah lokasi ini (is this site)

Terlindung(sheltered)/ terbuka (exposed).

- Apakah terdapat kerusakan terumbu karang yang disebabkan serangan badai di tahun terakhir ini? Any major coral damaging storm in past year?

- Bagaimana anda menilai pengaruh aktifitas manusia terhadap kondisi terumbu karang di lokasi ini? How do you rate this site in terms of anthropogenic impact?

Sama sekali tidak terpengaruh (pristine)

Sedikit terpengaruh (slightly impacted)

Cukup terpengaruh (moderatly impacted)

Sangat terpengaruh (heavily impacted)

- Apa jenis aktifitasnya? (What type of impact)

Penangkapan ikan dengan dinamit (dynamite fishing)

Penangkapan ikan dengan potasasium sianida (poison fishing)

Penangkapan ikan hias (Aquarium fish collection)

Pengambilan biota laut untuk dimakan (harvest of invertebrates for food)

Pengambilan biota laut untuk barang cenderamata (harvest of invertebrates for curio sales)

Aktifitas penyelaman untuk wisatawan (tourist diving)

Polusi sampah (sewage pollution)

Polusi industri (industrial pollution)

Metode penangkapan ikan yang lainnya (other forms of fishing)

Dampak yang lain (other impact)

- Apakah ada semacam sistem pengamanan di lokasi ini? (Is there any form of protection (statutory or others))

Apakah lokasi tersebut merupakan perairan yang dikelola atau dibawah tanggung jawab lembaga tertentu.

- Apakah jenis pengamanan ini ? (What kind of protection?)

Dengan cara bagaimana kawasan tersebut dikelola.

- Catatan umum (general remark)

Kolom ini disediakan untuk mencatat kondisi ekosistem terumbu karang yang dirasa penting tetapi tidak tercantum dalam kriteria Pemantauan. Beberapa hal yang penting untuk dicatat diantaranya adanya pemutihan karang (coral bleaching) dan penyakit (white band/ black band). Bila hal ini terjadi KK harus menghitung % luas karang yang terserang atau luas populasi karang dan % luas karang yang terserang dibagi dengan luas koloni.

Dokumentasi

Apabila memungkinkan, seluruh transek yang dilalui oleh para penyelam didokumentasikan baik dengan kamera video maupun kamera foto. Disarankan untuk mengambil foto lokasi transek dari beberapa arah yang menunjukkan lokasi penyelaman (dimana pelampung selam ditambat) dan tanda-tanda lain yang dapat menggambarkan susunan transek terhadap garis pantai, dermaga atau patokan-patokan lain yang memudahkan untuk menemukan kembali lokasi transek di masa mendatang.

Lebih lanjut, disarankan untuk mengambil gambar video seluruh transek dengan berenang perlahan-lahan di atas transek dan satu set lengkap foto slide dari seluruh transek menggunakan lensa 28 atau 35 mm. Kelebihan film pada kamera foto maupun video disarankan sebanyak mungkin dimanfaatkan untuk mendokumentasikan parameter-parameter Pemantauan terutama jenis-jenis kerusakan terumbu karang. Visual seperti ini sangat penting sebagai pembanding dan untuk mempresentasikan hasil survei kepada media. Akan sangat bermanfaat bila copy dari hasil dokumentasi tersebut dapat diserahkan ke panitia Sea Care. .

Pasca survei atau pengolahan data

KK bertanggung jawab untuk mengumpulkan semua lembar data dari seluruh peserta segera setelah pekerjaan selesai. Tujuannya adalah untuk memeriksa data secara cepat, sehingga bila ada kesalahan, dapat diperbaiki selagi peserta masih berada di lokasi survei dan transek masih terpasang. Kesalahan yang mungkin terjadi adalah penghitungan dua kali, kesalahan menentukan jenis indikator dan kesalahan memasukkan informasi di lembar data. Ketika diduga ada kesalahan dalam pengumpulan data maka harus dilakukan survei ulang untuk membetulkannya.

KK bertanggung jawab untuk merangkum data yang dikumpulkan oleh anggotanya.

Untuk menandai lokasi dan posisi transek dianjurkan untuk memberi tanda pada setiap transek permanen dengan pasak besi. Hal ini sangat penting untuk mempermudah melakukan survei kembali pada transek yang sama sebagai transek permanen.

09 Desember 2008

Bankh sms Siapa ini Bankh

SMS ROMANTIS
mana yg lebih penting, harta atw hubungan qt ?
Suatu hari kamu bertanya, mana yg lebih penting,
harta atw hubungan qt ?
aku jawab "HARTA"
Lalu kamu pergi meninggalkanku tanpa tau bahwa kamulah hartaku..

CARE 4 U
If 10 peopLe caRe 4 u,
one of them is me..
if 1 peRson carEs 4 u,
that wouLd be me agAin..
if no 1 caRes 4 u thAt means
i m nOt in this world.

aQ emg peNakut
aQ emg peNakut...
tAkut kEga2lan, kegeLapan, kEmatian,
tp...
ada 1 haL yg bnEr2 pLing aq tAkutin...
yAitu khilAngn oRg yg q sayang

Bankh sms Siapa ini Bankh

SMS ROMANTIS
mana yg lebih penting, harta atw hubungan qt ?
Suatu hari kamu bertanya, mana yg lebih penting,
harta atw hubungan qt ?
aku jawab "HARTA"
Lalu kamu pergi meninggalkanku tanpa tau bahwa kamulah hartaku..
care 4 u
If 10 peopLe caRe 4 u,
one of them is me..
if 1 peRson carEs 4 u,
that wouLd be me agAin..
if no 1 caRes 4 u thAt means
i m nOt in this world..
aQ emg peNakut
aQ emg peNakut...
tAkut kEga2lan, kegeLapan, kEmatian,
tp...
ada 1 haL yg bnEr2 pLing aq tAkutin...
yAitu khilAngn oRg yg q sayang